Ratapan Debu surau kami

Menyibak…

Tak dapatkah sang elang mengaum, seolah meraung menggidik bulu…

Senyum, tak dapatkah sang awan sembunyikan rautnya…

Berdesal bersama sang petir seolah hendak kehilangan mangsa

Tak dapatkah menahan air matamu,

Biar kujinjing kehidupanku, biar kutarik sela nafasku

Biar susah sungguh dalam lelap gemuruh bertaruh

Patuhi..

Sang Kuasa memerintah penuh arti

Menunjuk diri dalam lelap tak berarti

Singsingan celana menahan perih

Mengapa kau terus menangis, wahai awan utusan Tuhan

Mengabdi badan menggaung meruntuhkan harapan…

.

Andai…

Andai dapat ku memilih

Andai dapat kuucap kata letih…

Ku lelah menahan perih

Ku lelah menyaksikan hamburan nyawa berbuih..

Tapi…

PerintahNya bertaruh rasa pedih

Tak terucap kata letih

Tak terucap kata perih

Menggaung, menangis, meratapi

Ku kan terus berdesal meraung petir, 

Kujinjing nyawa dalam harap

.

Biarlah sang awan meneteskan air mata

Biarlah sang petir berdesal ria

Bersama sambutan gemuruh ombak, 

Menyibak…

Akankah kau katakan Tuhan memerintahkan?

Wahai ombak bagai perompak

Akankah kau raut jinjingan tak berdaya?

Tuhan memerintah sama…

Kulepas jinjingan nyawa

Mengapung raga bersama balutan sampah tak berdosa..

Tuhan memerintah yang sama..

.

Kini..

Tak banyak tersisa, 

Mentari tertawa seolah tak tau apa

Seolah tertawa mengajak daun dan ranting berdansa

Tak banyak tersisa,

Surau putih senada cipta

Menyapa mentari dalam senyumnya

Seolah terimakasih atas segala rasa

Tak banyak yang tersisa,

Debu itu terbang ria

Membalut surau tak berdosa..

.

Tak apa..

Hari masih sama..

Seperti Pacitan 1000 tahun lalu..

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *