Air Mata Pacitan

Hujan kemarin menyimpan seribu kisah di tanah kelahiran

Ia turun tanpa batas seolah tak bersalah

Ia ubah alam kami

Ia ubah jalan setapak kami

Yang semula hitam rata kini hitam berlubang

Ia ubah lahan mata pencaharian kami

Yang semula berlimpah ruah kini kandas tak terganti

Ia rusak sumber mata air kami

Yang semula jernih kini keruh terkontaminasi

Ia rusak tempat tinggal kami

Yang semula berdiri tegak kini porak-poranda

Ia rusak hutan kami

Yang semula asri kini kandas tak terkendali

Tanda tanya pun terdengar miris meminta jawaban

Siapa yang patut disalahkan?

Hanya air mata yang berbicara

Jika tanyapun tak ada jawaban

putus asa menghantui sang mimpi

Dikala malam tiba hanya ketakutan yang menyelimuti

Ketakutan yang bukan biasa melainkan luar biasa

Menantikan sebuah pengharapan

Kami rindu kicauan burung

Bukan suara gemuruh longsor

Kami rindu gerimis hujan berkah

Bukan suara gerimis hujan yg membuat hati gelisah

Kami rindu pesona pasang surut di lautan

Bukan ombak pasang seharian

Kini tinggalah pesan yang tertinggal

Jadikan peristiwa kemarin

Ketabahan di hari esok

1 thought on “Air Mata Pacitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *