Negeri Embun

Sepercik nada mengalun ria
Melabuhkan senjata dalam rasa
Mengusik pandang gemerlap raga
Jiwa nan perkasa bagai ksatria
Bertajuk labuh pada Negara, berjuluk Ksatria pelindung nyawa
Jiwa itu kuat, pun tak goyah memandang harap
Jiwa itu tertawa, bagai tak mati berpisah raga
Sempama sungai lupa pada muara
Sungai itu lupa, muara meraung meminta daya
Rintihan perih menyayat sudut dada

Muara nan menitikkan butiran embun
Merintih berbalut rasa perih
Menggetar bibir mengagungkan-Nya
Seumpama cacing mengharap bintang
Katakan pada-Nya, cacing tak goyah mengharap bintang
Melukis muka senada, menatap sang surya
Sang bintang yang hilang, kembalikan pada sang muara
Hanya butiran embun berbalut rintihan perih
Muara mengharap sepercik angan

Rintihan sang muara didengar-Nya
Menampilkan kuasa tak tergambar dalam dada
Mengubah sepercik embun menjadi sejuta mawar merona
Mengubah sang Ksatria bertaut rindu pada sang muara
Mengiang di sudut rasa
Angan menyatu bersama rindu
Meraung rasa dalam dada
Butiran peluru bermain ria, hingga lupa arah samudra
Melabuh dalam lengan tak berdosa
Bagai hujan dengan derasnya
Sang merah mengalir bersimbah
Mengutuk rautan sendu dalam wajah
Meneteskan lelehan sang pemandang

Langkah menderap menjemput angan
Sang Bintang mengharap kesempurnaan
Bersembah bersujud menatap naungan-Nya
Mengiang suara tangis dalam rimba
Kini, kembalilah sang bintang pada muara
Bertaut rindu kasih sayang-Nya
Kujanjikan padamu samudra dalam muara..
Sang bintang labuh negara..

Wahyu Mitasari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *