Angin yang membawaku berkelana

Menapak kerasnya kota penuh tipu daya

Hanya saku doa restu

Sudah kubulatkan tekad ku untuk maju

Siapa sangka aku bertahan?

Kenapa tak tumbang dengan miskinnya finansial?

Diambang keputusasaan itulah, berbagai tangan Tuhan menggenggam ku

Menuntunku dalam kalut dan sukarku

Memberi penerangan dalam kebutaan akan ilmu

Motivasi tanpa henti

Dan semangat yang tak pernah mati

Berbagai tangan Tuhan menuntunku

Memberi kekuatan untuk tetap tegak dan kokoh

Meskipun aura kota penuh rayu tipu 

Tetaplah berkelana wahai jiwa yang mendamba perubahan

Harapan itu ada di depan


Sby, 17 Oktober 20

0

 Kaki terus melangkah di penuhi konsistensi

Raga berbalut intuisi

Semangat terus maju tanpa pretensi

Ataupun halusinasi

 

Tangan ringkih telah terlatih

Menuliskan sajak-sajak penggoncang diri

Yang menjadi semangat untuk kuraih

Menyematkan pada sukma dan hati

 

Raga di terpa anila

Kala kedua netra ini melihat hamparan samudra

Seluas itu harapan untuk merdeka

Yang tertanam dalam jiwa

 

Pacitan, 17 Agustus 2020

 

 

 

0
Sumber Gambar: Kompas.com

Bumi Pertiwi tengah berduka
Dirimu pergi meninggalkan yang fana
Meninggalkan setiap sajak yang bermakna
Membungkam setiap waktu tanpa jeda

Walaupun jasadmu telah terkubur diperut bumi
Namun karyamu akan tetap abadi
Menyematkan setiap kenangan dalam hati
Agar tak lupa dikemudian hari

Tanpa jeda diri ini mengagumi karyamu
Setiap kata yang tertuang dalam puisimu
Mewakili setiap perasaanmu
Tak akan pernah mudah untuk melupakanmu

Oh.. saat ku tengok kembali buku itu
Terasa ku genggam kalbu
Menuntunku untuk terus membacanya
Dan memberikanku candu untuk menikmatinya

Karyamu tak pernah lekang di telan jaman
Pengagummu tak pernah pergi meninggalkan
Walau atmamu terbang menuju surga
Karyamu tak ada jeda untuk melegenda

Pacitan, 26 Juli 2020
0


Malang nian nasib tuan jalanan
Makan tak kenyang minum tak segar Mengambang bagai angin 

Tentrammu dalam keberingasan
Nyamanmu meliput kabut debu
Dingin dalam diam
Rintih dalam kepasrahan 

Suatu hari pikul pandemi
Nyawa di rumah harta di rumah
Sebagai peti menutup mati 
Menyongsong pandemi
Hampa dalam kepasrahan

Was-was bagai harimau di hadapan
Sakit hati sakit materi perih tak terperi
Tuan muda hilang angan
Pak tua lepas seragam
Keluar menjemput mati
Di dalam lapar menanti

Bagai serambi berbalut duri
Tuan berdasi hangat menyergap segelas kopi 
Dalam hangat balutan rumah
Uang di tangan makanan di hadapan
Sungguh malang nian Tuan Jalanan
Tanpa rumah tanpa teman 
Hidup tak dibutuhkan
Mati tak dihiraukan

Tuan jalanan,
Jejak menjadi debu 
Tangis menjadi angin lalu
Tuan jalanan,
Hidup segan mati tak mau

0



Pelukku jauh, rinduku dekat
Seumpama nadi yang melekat
Teringin mengucap kata penuh cinta
Apalah daya
Leher tercekat oleh banjir pelupuk mata
Rasaku tak ubahnya peluru aksara
Mengabadikannya dalam kata
Meski pilu kini menunggu hingga sibuk beradu
Pulang pasti akan datang, pergi pasti terjadi
Dan sunyi, itulah yang akan menemani
Senyummu menjadi candu
Yang membentuk rengkuh aman
Dan aku, jauh langkah
Sepi sunyi
Ujian Tuhan kini datang
Mengikat raga, menyergap langkah
Aku tergugu rindu
Termangu memandang 'pulang'
Menelisik mudik yang bertahun datang
Kini,
Wabah tiba membawa lara
Apalah daya
Biarlah kusimpan serpihan rindu
Bersama sendu, #dirumahaja dulu
Sukamu berharap pasti badai kan berlalu
0

Aku terpasung oleh jarak
Perlahan mengutuk angan
Meski tak sampai kepada sang pujaan
Jiwaku terpaku oleh kejamnya rindu
Tersadar menelisik sang surya
Tertanda pagi telah tiba
Dan aku
Tetap pada rinduku, pilu
Gemericik air perlahan mengalir
Seolah rintih sendu terdengar
Kau,
Tak ubahnya bintang di temaram
Terlihat meski tak ada
Terdengar meski tak bersuara
Kau tak ubahnya secercah sinar
Yang tak pernah lelah berpendar
Dan aku, tetap pada rinduku, pilu
Wahai pujaanku
Aku kini berteman sepi
Berkawan pilu
Bersahabat gelap
Bercengkrama tanpa sua
Wahai pujaanku,
Kuukir nama kita di sel penjara
Tak apa, adil kini bengis menghianati
Adilku telah pergi
Jauh,
Biarlah aku termangu memeluk angan hadirmu
0

1



Di saat banyak kawan,
tetangga,
saudara,
orang tua,
anak,
ponakan,
bibi,
paman,
kakek,
nenek,
ketua RT,
Kades,
Camat,
Bupati,
Gubernur,
Menteri, prihatin terhadap kehidupan saat ini,
kamu mengajak gembira dan bahagia orang orang disekitarmu.
Selamat, semoga bahagia
0




Oleh : Ika Saputri Ningsih
Langit menumpahkan segala kesedihannya
 Mengguyur raga dengan segala rasa
Menumpahkan segala gejolak yang membara
 Terlepas segala beban yang bertahta

Tangan ini tak lagi mampu mengusap segala rasa perih 
Raga telah terjatuh dengan pikiran yang letih
Terbelenggu pada kenyataan sedih 
Dan kaki tak mampu berjalan walau tertatih

Harapku hujan ini membawa segala pasrah yang berlimpah 
Inginku memeluk hari yang indah
Tapi tak pernah singgah 
Air mata turun dan membekas basah

Aku ingin keluar dari belenggu kegelapan 
Yang sungguh menikamku dalam kesendirian
Inginku merasakan makna kebebasan 
Dan terlepas dari kesepian

Hujan telah menjadi temanku
 Yang setia mendengarkan guratan kesedihanku
Menyamarkan segalah tangisku 
Dan menenangkan hatiku yang risau

1
Matahari bersinar
Dibalik rumah
Matahari bersinar
Adik sudah bangun
Bersiap untuk sekolah
Mandi, makan dan ambil jajan
Dan berangkat sekolah
Setelah sampai sekolah
Adik belajar dengan pintar
Pulang sekolah mendapat stempel bintang di tangan
0

Pelukku jauh, rinduku dekat
Seumpama nadi yang melekat
Teringin mengucap kata penuh cinta
Apalah daya
Leher tercekat oleh banjir pelupuk mata
Rasaku tak ubahnya peluru aksara
Mengabadikannya dalam kata
Meski pilu kini menunggu hingga sibuk beradu
Pulang pasti akan datang, pergi pasti terjadi
Dan sunyi, itulah yang akan menemani
Senyummu ilmu, keriputmu pahit getir hidup yang bertumpu
Yang membentuk rengkuh aman
Dan aku, jauh langkah
Patah
Karena tahu malaikatku punah
Dan langkah ini kembali sendiri
Meniti rapuh bersahabat peluh
Seorang diri. Sendiri
Menantang dunia, mendekap luka
Seorang diri. Sendiri
Damaiku berharap kau jangan pergi
Dunia ini terlalu kejam untukku sendiri
Tapi, mari menyingkap damai
Takdir mengalir seumpama air
Dan kini. Sendiri
Malaikat telah pergi
14


ANDAI BERANDAI
Oleh: Ika Saputri Ningsih

Angin bertiup  membangkitkan sukma
Deburan ombak mengalun bak desiran jiwa
Bulan menampakkan sinarnya
Langit bertabur bintang-bintang menambah keindahannya
Malam ini sangat berwarna

Pikiranku menerawang jauh ke angkasa
Menatap lekat bulan dan bintang
Menikmati alunan suara rana
Berkabung dalam luka lara

Andai kaki ini bisa melangkah
Inginku menjelajah tempat yang indah
Agar bisa menenangkan hatiku yang resah
Dan mewarnai hidupku yang tak terarah

Andai aku bisa berkata
Akan ku bacakan untaian syair bercinta
Tapi sayangnya...
Lidah ini terasa kelu untuk menyampaikan fakta

Aku hanya bisa memupuk harapan
Entah kapan menjadi kenyataan
Aku terlalu takut untuk menyambut masa depan
Tak ada yang dapat kulakukan untuk mewujudkan angan

Lelah raga dan jiwa ini
Dengan lara yang tak bertepi
Inginku ungkapkan segala isi hati
Pada Tuhan sang pemilik diri


8
Previous PostPostingan Lama Beranda